Featured Post

Tuesday, October 18, 2016

Mengapa Waktu Terasa Cepat ?



Dalam kehidupan sehari-hari kita sering merasakan waktu berlalu begitu cepatnya. Baru kemaren rasanya 2015, sekarang 2016 sudah datang menjemput kita. Demikian pula pergantian bulan, peralihan dari januari ke februari sangat tak terasa. Apalagi pergantian hari ke hari, satu hari terasa seperti satu jam. Fenomena seperti ini termasuk di antara tanda-tanda kiamat. Banyak hadis yang menginformasikan fakta ini sebagai tanda-tanda dari kiamat.  Di antara hadis tersebut adalah riwayat Abu Hurairah yang mendengar Nabi SAW berkata: 
“Kiamat tidak akan terjadi hingga ilmu dicabut, sering terjadi gempa, dan waktu terasa cepat” (HR: al-Bukhari)
Dalam hadis lain riwayat Ahmad disebutkan:
“Dari Abu Hurairah, Nabi SAW berkata: Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa berlalu begitu cepatnya. Satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti seminggu, satu minggu seperti satu hari, dan satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kedipan mata.” (HR: Ahmad) 
Ibnu Hajar menjelaskan yang dimaksud dari hadis di atas ialah hilangnya keberkahan hidup. Sehingga, hari berlalu begitu saja tanpa ada manfaatnya. Harta yang diperoleh tidak ada gunanya, habis begitu saja. Begitu pula anak, orang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Banyak yang punya anak, namun anak-anaknya tidak punya pengaruh apa-apa di masyarakat. Terkadang anak yang dilahirkan justru bikin resah masyarakat.
Abu Anas Shadiq dalam bukunya al-Fitan wa Asyrat al-Sa’ah, penyebab dari hilangnya keberkehan tersebut karena masyarakat banyak melakukan maksiat. Iman mereka lemah, mereka banyak memakan harta yang haram. Korupsi dan pencurian hak orang lain terjadi di mana-mana. Mereka menafkahi keluarganya dengan harta yang haram. Akibatnya,  kehidupan keluarga mereka tidak berkah. Meskipun mereka banyak yang kaya. Namun, kehidupan mereka tidak damai dan tentram. 
Dalam al-Qur`an Allah SWT sudah menjelaskan bahwa keberkahan hidup sangat bekait-kelindan dengan iman dan amal seseorang. Masyarakat yang menjalani kehidupannya dengan penuh keimanan dan amal saleh, niscaya Allah SWT akan menurunkan kepada mereka keberkahan, baik yang muncul dari langit ataupun bumi. Sebaliknya, masyarakat yang senang berbuat maksiat, Allah akan menutup pintu berkah itu untuk mereka. Hal ini sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah Surah al-A’raf ayat 96:
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: al-A’raf: 96)
Ada yang mengatakan kemajuan teknologi dan informasi merupakan penyebab pergantian waktu terasa begitu cepatnya. Sekarang, antar satu negara dengan negara lainya sudah tidak ada lagi batasnya. Amerika yang jarak georafisnya begitu jauh dengan Indonesia dapat ditempuh dalam beberapa jam saja. Begitu pula komunikasi antar negara, kita bisa berbicara dengan orang yang berada di daerah lain tanpa harus berkunjung bertamu ke rumahnya. Semua ini berkat kemajuan teknologi, alat komunikasi, dan transformasi.

Benarkah QS Al-Ma'idah: 51 melarang kita memilih non-muslim sebagai pemimpin?

Benarkah QS Al-Ma'idah: 51 melarang kita memilih non-muslim sebagai pemimpin?



Ini terjemah QS Al-Ma'idah: 51 yang belakangan ini banyak beredar: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" mu; sebagian mereka adalah "awliya" bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi "awliya", maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Kata "awliya" dalam Qs al maidah ayat 51 yang dijadikan alasan melarang mengangkat pemimpin kafir itu layak ditelaah kembali. Terjemahan Al-Qur'an depag menerjemahkannya sebagai "pemimpin". Konteks asbabun nuzul dan bacaan saya terhadap tafsir klasik semisal al Thabary dan Ibn Katsir tidak menunjukkan kata "awliya" dalam ayat di atas bermakna pemimpin, tapi semacam sekutu atau aliansi.

Penjelasan Tafsir Ibn Katsir mengenai asbabun nuzul QS al Maidah ayat 5:

"Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal." Sedangkan yang lainnya menyatakan, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya." Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" kalian....(Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.


Demikian penjelasan Ibn Katsir untuk kita lebih memahami konteks ayat di atas. Ini ayat senada:

QS al -Nisa ayat 144: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi "awliya" dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?"

Ayat 144 surat al Nisa di atas juga melarang kita mengambil orang non muslim sebagai "awliya". Mari kita cek apa penafsiran Ibn Katsir terhadap makna "awliya" dalam QS al Maidah ayat 51 sama maknanya dg QS al Nisa 144:

Kata Ibn Katsir: "Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai "awliya" mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah "awliya" dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka."

Jadi Tafsir Ibn Katsir tidak menafsirkan kata "awliya" sebagai pemimpin baik di QS al Ma'idah ayat 51 maupun an Nisa ayat 144. Yang dimaksud adalah temenan dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. Bukan dalam makna larangan berteman sehari-hari. Konteks al Ma'idah ayat 51 itu saat muslim kalah dalam perang uhud. Jadi ada yg tergoda untuk menyeberang dengan bersekutu pada pihak yahudi dan nasrani. Itu yang dilarang.

Ibn Taimiyah mengingatkan kita:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”
"Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin."

Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut.

Kalau ada orang Muslim, yang bersikap zhalim dan melakukan kezhaliman, ya jangan didukung. Allah tidak akan menolong orang yang zhalim.

Sesederhana itu sebenarnya, tanpa harus emosi dan punya tendensi kepada isu politik praktis. Kita ngaji saja apa makna ayat tersebut dan gak usah ikut-ikutan menjadikan ayat itu seolah-olah sebagai "ayat pilkada"

Dalil Melafadzkan atau Mengucapkan Niat Shalat, Puasa dan Ibadah Lainnya


Persoalan melafadzkan (membaca) niat di dalam ibadah khususnya di dalam shalat kembali menjadi permasalahan. Ramainya perdebatan mengenai masalah membaca niat muncul setelah umat membaca buku "Sifat Shalat Nabi saw" karya Syaikh Nashruddin al-Albany. Pada era tahun 1970-an persoalan ini memang pernah muncul, ketika para ustadz Muhammadiyyah mengeluarkan fatwa bid'ahnya mengucapkan "usholli" pada saat melakukan shalat atau ucapan "nawaitu shauma ghodin" pada saat melaksanakan ibadah puasa (shaum). Untuk mengklarifikasi, tuduhan bid'ah yang terlihat serampangan itu, pada kesempatan ini saya mengemukakan dalil-dalil yang membolehkan ucapan "usholli", "nawaitu shauma ghodin" atau melafadzkan niat di dalam ibadah.

DALIL TENTANG KEDUDUKAN NIAT
Di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa amal perbuatan sangat bergantung kepada niat. Nabi Muhammad saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Amirul Mu'minin Umar ibn al-Khatthab r.a.:

اِنَّمَا الاَعْمَالُ باِلنِّيَاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Bahwasanya setiap amal (perbuatan) hanya bergantung kepada niat dan bahwasanya setiap urusan (juga) bergantung kepada apa yang diniatkan.

al-Imam al-Suyuthi rah di dalam karyanya " Al-Ashbah wa al-Nadzoir fil furu' " menjelaskan bahwa hadits innamal a'malu binniyyat ini merupakan pondasi dari sebagian besar ilmu agama. Imam al-Syafi'i r.a. sebagaimana dikutip oleh Imam al-Suyuthi rah, mengatakan bahwa dari hadits ini lahir 40 cabang pembahasan ilmu. Demikian besarnya perhatian para ulama, sebagaimana terekam dari penjelasan Imam al-Suyuthi tadi menegaskan bahwa persoalan niat mempunyai kedudukan tersendiri bahkan penting di dalam urusan agama.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya APAKAH NABI SAW MEMBACA NIAT KETIKA MELAKUKAN IBADAH?

Menjawab pertanyaan ini, saya akan lampirkan beberapa dalilnya:1.  Hadits riwayat Anas bin Malik bahwa Rasul saw mengucapkan niat ketika melaksanakan haji

عَن اَنَس رَضِي الله عَنه سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلى الله عليه وسلم يَقُولُ لَبَّيك  عُمْرَةً وَحَجًّا
Dari Anas ibn Malik r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasul saw berujar mengucapkan niat hajinya,' Aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah dan haji" (HR Muslim, sebagaimana tertulis di dalam Syarah (penjelasan) Shahih Muslim karya Imam al-Nawawi rah Jilid VIII/hal.216)2.

Hadits Riwayat Umar ibn al-Khatthab dengan matan (isi) hadits yang lebih lengkap lagi mengenai niat haji Rasul saw:

عَنْ عُمر رضي الله عنه قال سَمِعتُ رَسولَ الله صلى الله عليه وسلم بِوَادى  العَقِيق  يَقُول اَتَانِى اللَّْيلةَ َاتِ رَبِّ فَقَالَ صَلِّ فِى هَذاَ الوَادِى المُبَارَك وَقُل عُمْرَةً فِى حَجَّةٍ
Dari Umar r.a. ia berkata Aku mendengar Rasul saw di lembah al-Aqiq berkata: " telah datang kepadaku tadi malam utusan Tuhanku (malaikat), ia berkata,' shalatlah (kamu wahai Rasul saw) di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah niat umrah untuk haji'. " (HR Bukhari Jilid 1/hal.89)

Kedua hadits di atas, bagi mereka yang baru belajar agama, pasti akan disanggah dengan komentar " Lho itu khan hadits tentang lafadz niat haji terus apa hubungannya dengan sholat?" Baiklah saya akan jawab. Meskipun hadits di atas menjelaskan masalah niat (mengucapkan niat) di dalam ibadah haji, tapi bukan berarti muatan hadits di atas, yaitu mengucapkan niat, hanya khusus untuk ibadah haji. Kesimpulan tersebut sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fikih:

 اِذَا وَرَدَ العَامُ عَلَى سَبَبٍ خَاصٍ فَالعِبْرَةُ لِعُمُومِ اللَّفْظِ لاَ لِخُصُوصِ السَّبَب
"Apabila ada nash (teks dalil baik Al-Qur'an ataupun hadits) yang bersifat umum karena sebab yang khusus, maka yang dianggap umum adalah nash bukan khususnya sebab".

Kaidah ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy rah seorang ulama salaf (Ibnu Qudamah wa atsuruhu al-ushuliyyah hal. 233)  Dengan berpatokan kepada kaidah ushul fikih itu, kedua hadits di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Teks kedua hadits di atas muncul karena sebab yang khusus yaitu haji dan umrah;
2. Isi teks kedua hadits di atas dipandang bersifat umum karena Nabi Muhammad saw tidak menjelaskan bahwa lafadz niat itu hanya diucapkan pada saat haji dan umrah saja.

Lain halnya jika di belakang kedua teks hadits itu Nabi Muhammad saw menegaskan dengan kalimat "jangan kalian baca niat selain daripada haji dan umrah ini.", seperti terdapat di dalam hadits tentang membaca surat Al-fatihah di dalam shalat bagi makmum.

PANDANGAN ULAMA
Untuk menegaskan kesimpulan di atas, di sini saya akan lampirkan beberapa pandangan ulama mengenai melafadzkan niat. Pandangan ulama ini penting dikarenakan mereka memahami secara utuh makna Al-Qur'an dan sunnah.

1. Mazhab Imam Abu Hanifah. Para ulama pengikut mazhab Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa melafadzkan niat sunnah hukumnya  untuk membantu kesempurnaan niat di dalam hati. Silakan cek di (Al-Bada'i al-Shana'iy fi Tartib al-Syara'i Jilid I/hal.127, al-durru al-Mukhtar Jilid I/hal.406, al-Lubab Jilid I/hal.66)

2. Mazhab Imam Malik bin Anas (Maliky). Niat shalat adalah syarat sah di dalam shalat, sebaiknya niat tidak dilafadzkan kecuali ragu. Karena itu menjadi sunnah melafadzkan niat shalat untuk menghilangkan keraguan. silakan lihat di (al-Syarh al-Shaghir wa hasyiyatu al-Shawi Jilid I/hal.303 dan 305)

3. Mazhab Syafi'i, Sunnah melafadzkan niat menjelang takbiratul ihram dan wajib menentukan jenis shalat yang dilakukan (Lihat Imam al-Nawawy Majmu Syarah al-Muhazzab Jilid III/hal.243 dan hal 252)

4. Mazhab Hanbali, sunnah melafadzkan niat dengan lisan. Lihat al-Mughny Jilid 1/hal.464-469 dan Kasyf al-Qona Jilid 1/hal.364-370).

Itulah pandangan ulama mazhab dianggap mewakili mayoritas umat Islam ahlussunnah.

Adapun pandangan Syaikh bin Baz rah dan Syaikh al-albany yang menganggap membaca niat adalah bid'ah tidak dapat dijadikan sebagai alasan mengingat pandangan kedua ulama itu bersifat pribadi dan tidak dapat mewakili mayoritas. Hanya orang-orang yang kurang pengetahuan agamanya saja yang menganggap pendapat kedua ulama tersebut sejalan dengan sunnah Nabi saw.

KESIMPULAN
1. Mengucapkan lafadz niat di dalam ibadah bukanlah perkara bid'ah karena yang demikian telah disebutkan secara tersirat oleh Nabi Muhammad saw.
2. Suatu perbuatan dapat dikatakan bid'ah jika tidak ada contohnya baik di dalam Al-Qur'an ataupun di dalam sunnah Nabi Muhammad saw. Syaikh Nawawi al-bantany rah menambahkan kriteria perbuatan bid'ah adalah menyalahi perintah syariat.
3. Dengan membaca secara jelas kedua hadits shahih dan berpedoman kepada kaidah di dalam membaca dalil sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama, tidak ditemukan persoalan bid'ah di dalam melafalkan niat ibadah apakah itu shalat, puasa, zakat, ataupun haji.
4. Menganggap bid'ah sebuah perbuatan bukanlah perkara yang gampang karena konsekuensi tuduhan bid'ah adalah kesesatan yang berujung kepada kekufuran.

Semoga bermanfaat, Wallahu waliyyut Taufiq....Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'mannashir.

Saturday, October 15, 2016

Keutamaan Membaca Al Quran Menurut Agama Islam

Keutamaan Membaca Al Quran  – Kami rasa setiap umat Islam yang ada di dunia di dalam rumahnya terdapat sebuah kitab suci Al quran, ya karena Al Qur'an sendiri merupakan kitab suci dari umat Islam. Namun yang menjadi pertanyaannya, apakah Al quran atau muskhaf yang ada di dalam rumah anda dibaca setiap harinya? Ataukah Al quran yang ada di rumah anda menjadi pajangan atau hiasan semata yang disimpan pada sebuah lemari secara rapi.
Memang tidak bisa dipungkiri, seiring banyaknya aktivitas yang dilakukan dalam sehari hari membuat kita sering lupa akan ibadah membaca Al quran. Padahal Al quran sendiri merupakan kalam Allah serta wahyu Allah yang diberikan oleh Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Al quran sendiri terbagi menjadi 30 juzz, 114 surat dan 6236 ayat. Dan setiap surat terdiri atas beberapa ayat yang tentunya setiap surat menjelaskan berbagai macam hal untuk kepentingan manusia khususnya untuk umat Islam.

Dan Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa orang yang membaca Al quran termasuk salah satu orang yang merugi. Untuk mengetahui lebih jelasnya, berikut ini sabda Nabi yang mengatakan orang yang tidak membaca Al quran termasuk orang yang merugi.


Jika melihat hadist diatas bahwa orang yang tidak membaca Al quran seperti rumah yang akan roboh, berarti membaca Al quran sangatlah penting bagi setiap umat muslim. Sebab Al quran memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kitab suci lainnya, adapun beberapa Keutamaan Membaca Al Quran yang perlu anda ketahui, diantaranya ada dibawah ini.

Keutamaan Membaca Al Quran Menurut Agama Islam


Dapat mententramkan hati
Keutamaan Membaca Al Quran yang pertama yaitu Dapat mententramkan hati, hal ini sesuai dengan penjelasan yang ada pada Quran Surat 13:28 yang penjelasan dalilny ada dibawah ini.
Mampu menyembuhkan penyakit
Sebagai kitab suci yang memiliki keistimewaan dan terbaik, tentunya Al quran mempunyai keutamaan dan fadilah.Dan Keutamaan Membaca Al Quran yang lainnya yaitu Mampu menyembuhkan penyakit. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw yang diriwayatkan HR. Ibnu Majah yang ada dibawah ini.
”Alaykum bisy syifaa-ayna al ‘asali wal qur-aani” yang artinya “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, madu dan al Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan al Hakim dalam Shahih-nya, beliau berkata, Hadits ini shahih sesuai dengan sistem periwayatan al Bukhari dan Muslim, dan disetujui oleh adz Dzahabi.  Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara marfu’)
Hatinya selalu bercahaya
Barang siapa yang membaca Al Quran, maka hatinya akan diberikan cahaya oleh Allah SWT serta dipelihara dari kegelapan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dimana penjelasan lengkap hadistnya bisa anda lihat berikut ini
Memperoleh Kemuliaan serta diberi rahmat kepada orang tuanya
Jika anda ingin mendapatkan kemuliaan yang langsung diberikan Allah dan orang tuanya diberikan rahmat oleh Allah maka hendaknya rajin membaca Al Quran atau muskhaf. Seperti hadist Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Abu Daud.
Mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam surga
Seperti yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad dalam sabda Nabi yang menjelasakan tentang kedudukan yang tinggi dalam surga bagi orang yang mau membaca Al quran.
Akan mendapatkan sepuluh kebaikan
Maksud dari mendapatkan sepuluh kebaikan disini yaitu membaca satu huruf di dalam Al quran dapat memperoleh sepuluh kebaikan. Keutamaan Membaca Al Quran ini, sesuai apa yang dijelaskan Nabi pada Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi
Membaca Al quran sama dengan bersedekah
Ternyata sedekah tidak hanya berupa memberikan harta atau uang saja namun membaca Al quran juga sama dengan bersedekah. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dan Nasa’i.
الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة
“Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-shahih-kan oleh Al Albani di Shahih Sunan At Tirmidzi)
Membaca Al Quran bisa menjadi syafaat
Keutamaan membaca Al Qur'an selanjutnya yaitu dapat menjadi syafaat bagi mereka yang membacanya. Nabi Muhammad Saw bersabda dalam sebuah hadist yang ada di bawah ini.

Sebagai cahaya ditengah kegelapan
Turunnya Al quran dimuka bumi sebagai cahaya yang terang benderang bagi kehidupan manusia yang ada di dalam bumi, yang dari zaman ke gelapan menjadi zaman yang terang bendarang. Jadi sudah sangat relevan apabila Al quran merupakan cahaya ditengah kegelapan. Penjelasan ini  sesuai dengan Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh HR. Baihaqi.
Kurang lebihnya itu saja pembahasan mengenai Keutamaan Membaca Al Quran yang bisa anda pelajari dan anda ketahui, mudah mudahan dengan adanya pembahasan artikel ini anda semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan anda

Sahih Abu Daud


Al-Quran
1. Dari Utsman r.a : Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” [Hadis 1452]
2. Dari Aisyah r.ha : Nabi saw bersabda, “Orang yang ahli (mahir) dalam Al-Quran akan bersama dengan para malaikat yang mulia lagi benar. Orang yang terbata-bata (merangkak-rangkak) dalam membaca Al-Quran dan dia bersusah payah mempelajarinya, untuknya pahala dua kali lipat.” [Hadis 1454]
3. Dari Uqbah bin Amir : Rasulullah saw pernah keluar menjumpai kami, sedang kami bersama ahlush shuffah. (klik – Maksud Ahlush Shuffah) Nabi saw bersabda, “Siapakah di antara kalian yang suka pergi ke Buththan ke Aqiq, lalu kembali membawa dua ekor unta yang besar lagi gemuk, bukan dengan cara haram dan bukan dari hasil memutuskan tali silaturahmi?” Mereka menjawab, “Kami semua suka wahai Rasulullah!” Nabi saw bersabda, “Seandainya seseorang di antara kalian berpagi-pagi pergi ke masjid setiap hari, lalu mempelajari dua ayat dari kitab Allah SWT (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik dari dua ekor unta. Jika belajar tiga ayat, maka pahalanya lebih baik dari tiga ekor unta. Demikianlah, bergantung banyaknya ayat yang dipelajari.” [Hadis 1456]
4. Dari Abu Hurairah r.a : Nabi saw bersabda, “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin (Al-Fatihah) adalah induk Al-Quran, induk Al-Kitab dan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.” [Hadis 1457]
5. Dari Ubay bin Ka’ab r.a : Nabi saw bersabda,”Hai Abu Mundzir, ayat apakah yang paling agung dari Kitabullah menurut engkau?”. Ubay menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi saw bersabda, “Hai Abu Mundzir! Ayat apakah yang paling agung dari Kitabullah menurut engkau?” Ubay menjawab “Allahu Laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum....”(Al-Baqarah [2] : 255). Ubay berkata, ‘Lalu beliau (Nabi saw) menepuk dadaku seraya bersabda, “Hai Abu Mundzir, semoga ilmu tetap menyayangimu.”’ [Hadis 1460]
6. Dari Abu Said Al-Khudri r.a : Bahwasanya seorang lelaki (Abu Said Al-Khudri) mendengar seorang lelaki (Qatadah bin Nu’man) membaca ‘Qul Huwallaahu ahad’ (Surah Al-Ikhlas), dia mengulang-ulangnya. Ketika pagi hari, dia (Abu Said) pergi mendatangi Nabi saw, lalu menyampaikan kejadian itu kepada beliau dan seolah-olah orang itu menganggap bacaan temannya itu sedikit. Maka Nabi saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah Al-Ikhlas itu mengimbangi sepertiga Al-Quran.” [Hadis 1461]
7. Dari Uqbah bin Amir r.a : Ketika aku berjalan bersama Rasulullah saw antara Juhfah dan Abwa’ (Abwa' adalah-sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah, kira- kira sejauh 23 mil di sebelah selatan kota Madinah-klik Juhfah untuk peta satelit), tiba-tiba kami diliputi angin dan cuaca gelap-gelita. Maka Rasulullah saw memohon perlindungan dengan membaca ‘Qul a’uudzubirobbil falaq’ dan ‘Qul a’uudzubirobbin naas’, dan Rasulullah saw bersabda, “Wahai Uqbah, mohonlah perlindungan kepada Allah dengan kedua surah ini. Tidak seorang pun berlindung kepada Allah dengan doa yang menyerupai keduanya”. Kata Uqbah, ‘Aku mendengar beliau menjadi imam ketika solat bersama kami dengan membaca kedua surah itu’. [Hadis 1463]
8. Dari Abdullah bin Amr r.a : Nabi saw bersabda, “Akan diucapkan kepada ahli Al-Quran (pada hari kiamat) ‘Bacalah, dan naiklah (ke syurga) serta bacalah (Al-Quran) dengan tartil, sebagaimana kamu membacanya dengan tartil ketika di dunia. Kerana sesungguhnya kedudukanmu adalah di akhir ayat yang engkau baca’”. (HASAN SAHIH) [Hadis 1464]
9. Dari Barra’ bin Azib r.a : Nabi saw bersabda, “Hiasilah Al-Quran dengan suaramu”. [Hadis 1468]

Doa 
10. Dari Nu’man bin Basyir : Nabi saw bersabda, “Doa itu ibadah. Tuhanmu telah berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu.’” (Surah Al-Mukmin : 40) [Hadis 1479]
11. Dari Fadhalah bin Ubaid : Rasulullah saw pernah mendengar seorang lelaki sedang berdoa dalam solatnya, dia tidak memuliakan Allah dan tidak membaca selawat atas Nabi saw. Maka Rasulullah saw bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Lalu Nabi saw memanggilnya dan dan bersabda kepadanya dan juga kepada lainnya. (Sabda Nabi saw) : “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan solat, hendaklah memulainya dengan mengagungkan Tuhannya dan menyanjung-Nya. Setelah itu bacalah selawat atas Nabi saw, kemudian berdoa setelah itu sesuai dengan doa yang dikehendakinya.” [Hadis 1481]
12. Dari Aisyah r.ha : Nabi saw menyukai kalimat doa yang jami’ (mencakup segalanya) dan meninggalkan kalimat yang selain itu.” [Hadis 1482]
13. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seseorang dari kamu mengucapkan, ‘Allahummaghfir lii in syi’ta, Allahhummarhamnii in syita (Wahai Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki. Wahai Allah, sayangilah aku jika Engkau kehendaki)’. Hendaklah berdoa dengan hati yang teguh, kerana tak seorang pun yang dapat memaksa Allah.” [Hadis 1483]
14. Dari Abu Hurairah r.a :Nabi saw bersabda, “Akan dikabulkan (doa) seseorang dari kamu selama dia tidak tergesa-gesa, iaitu berkata, ‘Aku telah berdoa, tapi belum juga dikabulkan bagiku.” [Hadis 1484]
15. Dari Malik bin Yasar As-Sakuni Al Aufi : Nabi saw bersabda, “Apabiila kalian memohon kepada Allah, mohonlah dengan perut telapak tanganmu, dan janganlah memohon kepada-Nya dengan punggung (bahagian luar) telapak tangannya.” (HASAN SAHIH) [Hadis 1486]
16. Dari Anas r.a : Bahawasanya dia pernah duduk bersama Rasulullah saw dan seorang lelaki yang sedang solat, kemudian berdoa (Terjemahannya : Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, segala puji hanya milik Engkau, tidak ada Tuhan selain Engkau. Yang Pemurah, Yang menciptakan langit dan bumi, wahai Dzat yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang yang hidup lagi mengurusi semua makhluk). Lalu Nabi saw bersabda, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, yang apabila diseru dengan nama itu, pasti Dia mengabulkannya, dan apabila diminta dengan nama itu, pasti Dia memberinya.” [Hadis 1495]
17. Dari Asma binti Abu Bakar r.a : Nabi saw bersabda, “Nama Allah yang agung terdapat dalam dua ayat, iaitu ‘Wa ilaahukum ilaahu(n) waahid. Laa ilaaha ilaa huwarrahmaanurrahim’. (Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Tiada Tuhan selain Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)(Surah Al-Baqarah [2] : 163). Dan juga pada pembukaan surah Ali Imraan, ‘Alif laam miim. Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.’ (Alif laam miim. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Mengurus segala makhluk).” (Hasan) [Hadis 1496]
18. Dari Ibnu Abbas r.a : Ia berkata, Rasulullah saw pernah keluar dari rumah Juwairiyah. Nama Juwairiyah adalah Burrah, lalu diubahnya. Beliau saw keluar, sedang Juwairiyah masih tetap di tempat solatnya. Lalu Nabi saw kembali, namun dia masih tetap di tempat solatnya. Setelah itu Nabi saw bersabda, “Kamu masih saja di tempat solatmu ini?” Jawabnya. “Ya.” Nabi saw bersabda, “Aku telah berkata kepada orang-orang selain kamu empat kalimat. Nabi saw mengucapkannya tiga kali. Kalau tiga kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan tadi, pasti memadainya, iaitu ‘Subhaanallaahi wabihamdih, ‘adada khalqih, wa ridhaa nafsih, wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.’ (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak bilangan makhluk-Nya, kesukaan diri-Nya, timbangan arasy-Nya dan sebanyak kalimat-Nya).” [Hadis 1503] (Juga Diriwayatkan oleh Muslim)
19. Dari Aisyah r.ha : Bahawa Nabi saw setelah salam (selesai solat), Nabi saw mengucapkan ‘Allaahumma antassalaam, wa mingkassalaam, tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikraam.’ (Wahai Allah, Engkaulah keselamatan, daripada-Mu kesejahteraan dan Maha Besar kebaikan-Mu, wahai Allah yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan). Abu Daud berkata, ‘Sufyan mendengar dari Amr bin Murrah.” Kata mereka, “(Ia mendengar) lapan belas hadis.” [Hadis 1512]
20. Dari Tsauban, pelayan Nabi saw : Bahawasanya Nabi saw apabila hendak selesai dari solatnya, Beliau saw membaca istighfar tiga kali, lalu mengucapkan “Allaahumma...” Dia menyebutkan maksud hadis Aisyah r.ha (seperti hadis no.19). [Hadis 1513]

Doa Ketika Takut Kepada Sesuatu Kaum 
21. Dari Abu Musa Al-Asy’ari : Nabi saw apabila takut kepada sesuatu kaum, beliau mengucapkan , ‘Allahuma innaa naj’ aluka fii nuhuurihim wa na’udzu bika min syururihim .” (Wahai Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau untuk menolak mereka (bermaksud : menyerahkan sepenuh hati kepada Allah yang Maha Agung) dan kami memohon perlindungan dengan Engkau dari kejahatan mereka) [0365]

Doa Mohon Perlindungan 
22. Dari Ibn Umar r.a : Di antara doa Rasullas saw adalah, ‘Allahumma inni a’udzu bika min zawaali ni’matika wa tahwiili ‘aafiyatika wa fujaa-ati naqmatika, wajami’i sukhthik.” (Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, pindahnya kesejahteraan-Mu, datangnya murka-Mu dengan tiba-tiba dan semua murka-Mu) [1545]
23. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw mengucapkan Allahumma inni a’udzu bika minal arba’, min ‘ilmi(n) (l)la yanfa’, wamin qalbi(n) (l)laa yakhsya’, wa min nafsi(n) (l)laa tasyba’, wamin du’aai(n) (l)laa yusma’. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara. Iaitu : (1) Dari ilmu yang tidak bermanfaat, (2) dari hati yang tidak khusyu’, (3) dari jiwa yang tidak kenyang dan (4) dari doa yang tidak dimakbulkan. [1548]

Sedekah 
24. Dari Abdullah bin Umar r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memohon perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah orang tersebut dan barangsiapa yang meminta dengan nama Allah, maka berilah. Barangsiapa yang mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan itu, dan jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakan orang tersebut sampai kamu merasa bahawa kamu telah membalasnya.” [1672]
25. Dari Abu Hurairah r.a : Sesungguhnya ia berkata, ‘Wahai Rasulullah saw, apakah sedekah yang paling utama?’ Nabi saw bersabda, “Orang miskin yang berusaha keras, dan mulailah dengan bersedekah kepada keluargamu.” [1677]
26. Dari Sa’ad bin Ubadah r.a : Sesungguhnya ia telah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibunya Sa’ad telah wafat, maka sedekah apa yang paling utama untuknya? Nabi saw bersabda, “Air.” Sa’ad berkata, ‘Maka aku membuat sumur yang aku niatkan pahalanya untuk ibuku.’ [1681]

Silaturrahim 
27. Dari Anas bin Malik r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” [1693]
28. Dari Jubair bin Muth’im r.a : Telah sampai kepadanya hadis Nabi saw berbunyi, “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan silaturrahim.” [1696]
29. Dari Abdullah bin Amr r.a : Rasulullah saw telah bersabda, “Bukanlah orang yang membalas dengan baik kebaikan orang lain yang disebut sebagai orang yang menyambung tali silaturrahim, tetapi dia adalah orang yang menyambung kembali hubungan yang terputus.” [1697]
30. Dari Aisyah r.ha : Sesungguhnya ia telah menyebutkan jumlah orang-orang miskin, yang lain mengatakan, ‘Ia menyebutkan beberapa sedekahnya,’ kemudian Nabi saw bersabda kepadanya, “Berikanlah dan janganlah kamu menghitung-hitungnya, kalau kamu menghitung-hitungnya, (takut dan enggan mengeluarkan sedekah) sehingga Allah mempersempit rezeki-Nya kepadamu.” [1700]

Kewajipan Haji 
31. Dari Ibnu ‘Abbas r.a : Al-Aqra’ bin Habis bertanya kepada Rasulullah saw, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah haji di wajibkan setiap tahun atau hanya sekali (dalam seumur hidup)?’. Rasulullah saw menjawab, “Ya, hanya sekali dan siapa yang menambahkan, maka itu sunah.” [1721]

Ziarah Kubur 
32. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu menjadikan rumahmu sebagai kuburan, dan janganlah kamu menjadikan kuburan ku sebagai hari raya, dan berselawatlah kepada ku, kerana sesungguhnya selawat mu (itu) sampai kepada ku dimanapun kamu berada.” [2042]

Nikah 
33. Dari Abu Hurairah r.a : Nabi saw bersabda, “Wanita dinikahi kerana empat perkara; kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Pilihlah kerana agamanya, maka engkau akan beruntung dan bahagia.” [2047]
34. Dari Jabir bin Abdullah r.a, ia berkata : Rasulullah saw telah berkata kepada ku, “Apakah engkau sudah bernikah?” Aku menjawab, ‘Ya, sudah.’ Kemudian Nabi saw bertanya lagi, “Dengan gadis atau dengan janda?” Aku menjawab, ‘Dengan seorang janda.’ Nabi saw berkata kembali, “Kenapa tidak dengan gadis? Sehingga engkau dapat bermesraan dengannya, dan ia dapat bermesraan dengan mu.” [2048]
35. Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata : Telah datang seorang lelaki kepada Nabi Muhammad saw, kemudian lelaki tersebut berkata kepada Nabi saw, ‘Saya telah bertemu dengan seorang wanita yang cantik dan bernasab baik, akan tetapi wanita tersebut tidak dapat melahirkan (mandul), apakah (boleh) saya menikahinya?’ Nabi saw menjawab, “Jangan.” Kemudian lelaki tersebut datang lagi untuk kedua kalinya, dan Nabi saw juga melarangnya. Kemudian lelaki tersebut datang lagi untuk yang ketiga kalinya, dan Nabi saw menjawab, “Nikahilah wanita yang banyak anak kerana aku akan bangga dengan banyaknya umat ku.” (Hasan Sahih) [2050]
36. Dari Ali bin Abu Thalib r.a : Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT telah melaknat muhallil dan muhallal lahu.” [2076] Muhallil bermaksud : Orang yang menikahi wanita yang ditalak tiga supaya suaminya yang pertama dapat menikahi kembali. Muhallal lahu bermaksud : Orang yang mentalak isterinya dengan talak tiga dan ingin menikahinya kembali.
37. Dari Ibnu Umar r.a : Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah seseorang kamu meminang seorang wanita yang telah dipinang saudaranya (dipinang oleh orang lain) dan jangan pula seorang dari kamu menawar barang dagangan yang telah di tawar oleh saudara kamu, kecuali dengan izin dari peminang atau penawar yang pertama.” [2081]
38. Dari Ibnu ‘Abbas r.a : Sesungguhnya seorang wanita datang kepada Nabi saw, kemudian ia menceritakan kepada Nabi saw bahawa ayahnya telah menikahkannya (tanpa kerelaan), dan dia tidak menyukai perkahwinannya. Maka Nabi saw pun memberikan wanita tersebut hak untuk memilih. [2096]
39. Dari Ibnu Mas’ud r.a : Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seseorang wanita melihat wanita lain, kemudian menceritakan kepada suaminya seakan-akan ia (suaminya) melihatnya (wanita tersebut).” [2150]
40. Dari Muawiyah Al-Qusyairi r.a : Aku mendatangi Rasulullah saw, aku berkata, ‘Nasihat apa yang akan engkau katakana (yang harus kami lakukan) terhadap isteri-isteri kami?’ Rasulullah saw menjawab, “Berilah mereka makan dari apa-apa yang kalian makan, dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai. Janganlah kalian memukul mereka dan jangan pula menjelikkan (memburuk-burukkan) mereka.” [2144]

Menahan Pandangan 
41. Dari Jarir r.a : Saya bertanya kepada Rasululullah saw tentang pandangan yang tidak disengaja. Kemudian Rasulullah saw menjawab, “Alihkanlah pandangan mu.” [2148]

Talak 
42. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bergurau maka akan menjadi sungguh-sungguh, iaitu : nikah, talak dan ruju’.” Hasan [2194] Khulu’ (Permintaan Cerai Dari Isteri)
43. Dari Tsauban r.a : Rasulullah saw bersabda, “Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya dengan tanpa ada alasan yang dibenarkan, maka ia terhalang dari bau syurga.” [2226]

Puasa 
44. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik solat setelah solat fardhu adalah solat malam (tahajjud).” [2429]
45. Dari Abu Ayyub r.a : Nabi saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan yang kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari penuh bulan Syawal, maka seakan-akan ia puasa satu tahun penuh.” [2433]
46. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Tidak boleh bagi isteri untuk berpuasa sedangkan suaminya sedang bersamanya kecuali mendapatkan izin darinya iaitu selain puasa Ramadhan. Tidak boleh pula memperkenankan orang lain (masuk) ke rumah suaminya ketika suaminya sedang bersamanya kecuali mendapat izin suaminya.” [2458] Penjelasan : Sedangkan ketika suami berada dalam rumah tidak boleh membenarkan orang lain masuk kecuali izin suami, apalagi jika suaminya tiada di rumah.

Jihad
47. Dari Amir, dari Abdullah bin Amru r.a : Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari ucapannya dan perilakunya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah kepadanya.” [2481]
48. Dari Imran bin Husain r.a: Rasulullah saw bersabda, “Sekelompok dari umat ku akan senantiasa berjuang membela kebenaran dan akan mengalahkan orang yang memusuhi mereka sehingga orang terakhir dari mereka nanti akan memerangi Dajjal.” [2484]
49. Dari Ummu Haram binti Milhan r.ha : Nabi saw bersabda, “Perut yang (mual sehingga) muntah pada waktu di laut (mabuk laut), baginya pahala orang syahid. Sedangkan bagi orang yang tenggelam (lemas) baginya pahala dua orang syahid.” (HASAN) [2493] Penjelasan : Mabuk laut ketika berada di laut itu tentunya bukan berlayar untuk bermaksiat. Wallahu’alam.
50. Dari Anas bin Malik r.a : Rasulullah saw bersabda, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” [2504]
51. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membekali pasukan di jalan Allah maka ia (dianggap) telah berperang. Barangsiapa mengurus keluarga dari orang yang berperang dengan baik maka ia (juga dianggap) telah berperang.” [2509] Tambahan Hadis Nomer 51 : Dalam riwayat yang lain dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a dari Nabi saw : “Maka baginya separuh dari pahala orang yang keluar (untuk berperang)." [2510]
52. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Sesuatu yang paling buruk dalam diri seseorang adalah (sifat) bakhil yang diikuti dengan rasa takut yang berlebihan.” [2511]

Binatang 
53. Dari Sahal bin Hanzhaliyah r.a, ia berkata : Rasulullah saw pernah melalui seekor unta yang punggungnya bertemu dengan perutnya (kerana kelaparan atau kurus), kemudian beliau (SAW) bersabda, “Takutlah kalian kepada Allah atas binatang yang bisu ini. Kenderailah ia dengan cara yang baik dan berilah ia makan dengan cara yang baik pula.” [2548] – (Nota : Rujuk hadis 2549 – Rujukan penulis sahaja)
54. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Ketika seorang lelaki berjalan di sebuah jalan, tiba-tiba ia merasa sangat haus lalu ia terjumpa sebuah sumur dan ia pun turun menuju sumur tersebuat kemudian minum. Setelah itu ia keluar dan pergi namun tiba-tiba seekor anjing menjulurkan lidahnya sambil menjilat-jilat tanah kerana sangat haus. Orang itu pun berkata, ‘Anjing itu pasti sangat haus sama seperti yang aku alami tadi.’ Orang itu kemudian turun lagi ke dalam sumur lalu mengisi air ke dalam sepatu, kemudian membawanya ke atas dengan cara menggigitnya. Setelah itu dia meminumkannya kepada anjing itu. Allah pun membalas kebaikan orang itu dan mengampuninya. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah saw, apakah kita mendapat pahala kalau kita berbuat baik kepada binatang?’ Rasulullah (SAW) menjawab, “(menyayangi) setiap makhluk yang bernyawa ada pahalanya.” [2550]
55. Dari Jabir r.a, ia berkata : Suatu ketika ada seekor himar atau keldai yang dicap mukanya lalu di hadapan Nabi saw, beliau (SAW) bersabda, “Tidakkah aku telah sampaikan kepada kalian bahawa aku melaknat orang yang mengecap haiwan ternaknya di mukanya atau memukulnya di wajahnya.” Beliau (SAW) lalu melarang hal tersebut (mengecap dan memukul di wajah binatang). [2564]

Perjalanan 
56. Dari Anas r.a : Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah bepergian (melakukan perjalanan jauh) pada malam hari kerana bumi dilipat pada malam hari (maksudnya jarak terasa dekat).” [2571]
57. Dari Jabir r.a : Rasulullah saw bersabda, “Jangan kalian lepaskan ternak kalian ketika matahari terbenam hingga hilang kegelapan malam kerana sesungguhnya syaitan akan berbuat kerosakan ketika matahari terbenam hingga hilangnya kegelapan malam.” [2604]
58. Dari Ka’ab bin Malik r.a, ia berkata : Jarang sekali Rasulullah saw keluar untuk perjalanan kecuali pada hari Khamis. [2605]
59. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada tiga orang yang melakukan perjalanan, maka hendaklah salah satu dari mereka menjadi pemimpin perjalanan.” HASAN SAHIH [2609]
60. Dari Ibnu Abbas r.a : Rasulullah saw bersabda, “Teman yang paling baik adalah berjumlah empat orang, pasukan yang baik adalah empat ratus personel, dan (jumlah) tentera yang baik adalah sebanyak empat ribu tentera, dan jumlah tentera dua belas ribu orang tidak dapat dikalahkan.” [2611]


9 Syarat Syarat Wajib Sah Shalat Bagi Muslim

Assalamua’laikum Wr. Wb. Hari ini kami disini akan memberikan informasi yang sangat perlu dipahami untuk semua umat islam, informasi tentang apa saja syarat wajib dan sahnya untuk mengerjakan shalat. Bagi seorang muslim harus benar memahami syarat ini karena ini adalah hal yang perlu anda pahami sebelum menjalankan shalat wajib maupun shalat sunah.



.
Percuma kalau kita shalat untuk beribadah kepada Allah SWT tapi syarat utama kita tidak kita ketahui dan selalu kita langgar yang akan berakibat pada tidak sahnya shalat yang kita kerjakan. Untuk mengindari itu maka pertama kita harus benar mengetahuinya


Ada 9 Syarat Sah Mengerjakan Shalat

  1. Islam
  2. Berakal,
  3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk)
  4. Menghilangkan hadats
  5. Menghilangkan najis
  6. Menutup aurat
  7. Masuknya waktu
  8. Menghadap kiblat
  9. Niat
Berikut ini adalah penjelasan tentang 9 syarat sah shalat diatas.
1. Islam
Telah masuk Islam. Lawannya orang islam adalah orang kafir. Orang kafir amalannya akan tertolak walaupun dia banyak mengamalkan ibadah atau kebaikan apa saja, dalilnya firman Allah ‘di QS (At-Taubah:17)

Dan firman Allah pada QS (Al-Furqan:23),


Dan Shalat tidak akan diterima bagi selain seorang muslim yang dalilnya firman Allah (Aali ‘Imraan:85) adalah


2. Berakal

Orang Berakal adalah lawannya orang gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,

3. Tamyiz


Tamyiz adalah anak-anak yang sudah bisa mengetahui untuk membedakan antara antara mana baik dan mana yang buruk, masa ini dimulai dari umur kisaran tujuh tahun. Jika anak sudah memiliki umur tujuh tahun maka wajib bagi mereka diperintahkan untuk menunaikan ibadah shalat, yang berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam



4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)

Hadats dibedakan menjadi 2: pertama, hadats akbar  atau hadats besar seperti janabat dan haidh, cara mensucikanya adalah dengan mandi (yakni mandi janabah), dan kedua adalah hadats ashghar atau hadats kecil, cara mensucikanya adalah dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,


5. Menghilangkan Najis

Menghilangkan najis terdiri dari tiga hal: bagian badan, pakaian yang dikenakan dan tanah atau lantai tempat untuk ibadah shalat, dalilnya firman Allah pada QS:Al-Muddatstsir:4,




6. Menutup Aurat

Menutup Aurat adalah menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit dan juga bentuk tubuh, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,oleh HR. Abu Dawud :



Para ulama sepakat atas batalnya atau tidak sahnya shalat seseorang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya, padahal dia sebenarnya mampu mendapatkan penutup aurat atau tubuh. Dan untuk batas aurat untuk laki-laki adalah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan untuk seorang wanita merdeka maka seluruh tubuhnya atau auratnya selain wajah, selama tidak ada ajnaby atau orang yang bukan mahramnya yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.

7. Masuk Waktu

Masuk Waktu, Dalil dari As-Sunnah adalah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.”
Dan firman Allah ‘azza wa jalla QS : An-Nisa`:103,

8. Menghadap Kiblat
Dalilnya firman Allah QS: Al-Baqarah:144,


9. Niat

Tempat niat adalah di dalam hati, sedangkan untuk melafazhkannya merupakan bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajib untuk niat adalah hadits yang masyhur,


اِنَّمَا الاَعْمَالُ باِلنِّيَاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Bahwasanya setiap amal (perbuatan) hanya bergantung kepada niat dan bahwasanya setiap urusan (juga) bergantung kepada apa yang diniatkan.

Alhamdulillah akhirnya selesai juga kami menyampaikan syarat sah shalat untuk anda berdasarkan firman Allah dan Hadist yang ada, semoga bisa menambahkan pengetahuan anda tentang Islam dan bisa lebih untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT dari kewajinan utama umat muslim yaitu Shalat.





Credit : Tuntunanshalat





Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu

Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu

Infanteri Terbaik Umat ini

Dia adalah Salamah bin Amr bin Al Akwa’. Nama asli Al-Akwa’ adalah Sinan bin Abdillah bin Qasyir bin Khuzaimah bin Malik bin Salaman bin Al Afsha Al Aslami. Para ulama berbeda pendapat tentang kuniah Salamah. Sebagian berpendapat ia adalah Abu Iyyas, yang lain berkata Abu Muslim, atau Abu Amir. Namun yang masyhur adalah Abu Iyyas. Salamah adalah salah seorang pemanah bangsa Arab yang terkemuka, juga terbilang tokoh yang berani, dermawan dan gemar berbuat kebajikan. Ketika ia menyerahkan dirinya menganut agama Islam, diserahkannya secara benar dan sepenuh hati, hingga agama ini pun menempanya menjadi muslim yang tangguh dan kokoh. Ia masuk Islam beserta kaumnya, Bani Aslam. Umurnya saat itu baru sekitar 12 atau 13 tahun.

Salamah bin Akwa’ adalah seorang sahabat Rasul yang tidak pernah berdusta. Ia senantiasa jujur dalam ucapannya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Iyyas putranya sendiri, “Ayahku tak pernah berdusta!” demikian salah satu keutamaan beliau.

Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu termasuk pula tokoh-tokoh Bai’atur Ridwan pada tahun 6 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat berangkat dari Madinah dengan maksud hendak berziarah ke Ka’bah, tetapi dihalangi oleh orang-orang Quraisy, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan kepada mereka bahwa tujuan kunjungan mereka hanyalah untuk berziarah dan sekali-kali bukan untuk berperang. Sementara menunggu kembalinya Utsman, tersiar berita bahwa ia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu duduk di bawah naungan sebatang pohon menerima bai’at sehidup semati dari sahabatnya seorang demi seorang. Berceritalah Salamah, “Aku mengangkat bai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon, dengan pernyataan menyerahkan jiwa ragaku untuk Islam, lalu aku mundur dari tempat itu. Tatkala mereka tidak berapa banyak lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Hai Salamah, kenapa kamu tidak ikut bai’at?’ ‘Aku telah bai’at, wahai Rasulullah!’ ujarku. ‘Ulanglah kembali!’ titah Nabi. Maka kuucapkanlah bai’at itu kembali.”

Salamah terkenal sebagai tokoh paling mahir dalam peperangan jalan kaki, dan dalam memanah serta melempar tombak. Ia adalah seorang kesatria Islam yang tangguh lagi cerdik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memujinya:
خَيۡرُ رَجَالِنَا سَلَمَةُ بۡنُ الۡأَكۡوَعِ
“Sebaik-baik pasukan pejalan kaki (infanteri) kita adalah Salamah bin Akwa’.”
Demikian ucapan Rasul ini diceritakan oleh anaknya, Iyyas, kepada kita.

Dengan siasat yang dimilikinya, Salamah mampu seorang diri menghalau perampok yang merampok unta-unta penduduk Madinah dan membunuh penggembalanya. Kawanan perampok itu dipimpin oleh Abdurrahman Fizari. Lalu kawanan perampok ini dibantu oleh kawanan lain yang dipimpin oleh Uyainah bin Hishn Al-Fizari, namun dapat dipatahkan oleh Salamah dan pasukan muslimin yang baru tiba dalam suatu peperangan yang disebut perang Dzi Qarad. Ia pergi membuntuti mereka seorang diri, lalu memerangi dan menghalau mereka dari Madinah, hingga akhirnya datanglah bala bantuan dari sahabat-sahabatnya.

Yang meriwayatkan hadits darinya ada sejumlah orang dari kalangan tabiin yang bermukim di Madinah seperti anaknya sendiri Iyyas bin Salamah, lalu Yazid bin Ubaid dan Yazid bin Khashifah.

Tidak pernah Salamah berhati sedih dan merasa kecewa kecuali saat saudaranya yang bernama ‘Amir bin Al Akwa’ terbunuh di perang Khaibar. Ketika itu ‘Amir mengucapkan pantun dengan suara keras di hadapan tentara Islam, katanya:
Kalau tidak karena-Mu tidaklah kami ‘kan dapat hidayah
Tidak akan shalat dan tidak pula akan berzakat
Maka turunkanlah ketetapan ke dalam hati kami
Dan dalam berperang nanti, teguhkanlah kaki-kaki kami.

Dalam peperangan itu, ‘Amir memukulkan pedangnya kepada salah seorang musyrik. Tetapi rupanya pedang yang digenggamnya hulunya itu melantur dan terbalik menghujam ubun-ubunnya yang menyebabkan kematiannya.

Beberapa sahabat berkata, “Kasihan ‘Amir, ia terhalang mendapatkan mati syahid!”

Maka pada waktu itu, Salamah merasa amat kecewa sekali. Ia menyangka sebagaimana sangkaan sahabat-sahabatnya bahwa saudaranya ‘Amir itu tidak mendapatkan pahala berjihad dan sebutan mati syahid, disebabkan ia telah bunuh diri tanpa sengaja.

Tetapi Rasul, segera memberinya air kesejukan dengan jawaban beliau ketika Salamah datang kepadanya bertanya, “Wahai Rasulullah, betulkah pahala ‘Amir itu gugur?”

Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ia gugur sebagai pejuang dan mendapat dua macam pahala. Dan sekarang ia sedang berenang di sungai-sungai surga…!”

Salamah juga terkenal sebagai seorang yang dermawan, apalagi bila permintaan itu atas nama Allah, sebisa mungkin pasti ia kabulkan.

Sewaktu Utsman radhiyallahu ‘anhu dibunuh, pejuang yang perkasa ini merasa bahwa api fitnah telah menyulut kaum muslimin, maka ia hijrah menuju Rabdzah, kampung yang dipilih oleh Abu Dzar. Ia tidak mau membunuh saudara seagama. Di akhir usia, beliau rindu untuk menengok kota Madinah. Selang setelah dua-tiga hari meninggallah beliau di Madinah, di tahun 74 H di usia 80 tahun. Wahai Salamah, semoga Allah meridhai Anda…

Credit : abang yusan yanuar ismail